DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
........................................................................
1.2. Tujuan
......................................................................................
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Manusia Dan Budaya
................................................................
2.2 Budaya .....................................................................................
2.3 Etika Manusia dalam Berbudaya ..............................................
2.4 Estetika Manusia dalam Berbudaya
.........................................
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Hakikat
Manusia Sebagai Makhluk Budaya ............................
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
.............................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budaya
berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari
kata buddhi yang berarti budi atau akal diaertikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Budaya
merupakan bagian yan tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Budaya dapat
diartikan sebagai pikiran atau akal budi. Manusia sebagai makhluk budaya
artinya adalah makhluk yang memiliki akal budi atau pikiran yang digunakan
untuk memperhitungkan segala perbuatan yang dilakukannya dan sebagai dasar atas
segala tindakan yang dilakukan. Dengan dasar itulah manusia menjadi makhluk
yang paling tinggi derajatnya, karena
manusia diciptakan tuhan dengan diberi akal.
Manusia dalam sudut terminologi, manusia dapat dilihat dari berbagai macam
bidang ilmu seperti biologi. Dalam biologi manusia diartikan sebagai spesies
primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Didalam
bidang antropologi kebudayaan, manusia
lebih ditekankan terutama dalam bidang konsep penciptaan dan penggunaan serta
perkembangan teknologi.
1.2 Tujuan
Adapun
tujuan yang dapat di peroleh dari makalah ini, sebagai berikut.
1.
Mengetahui bagaimana peranan manusia sebagai makhluk berbudaya.
2.
Mengetahui cara manusia berinteraksi satu dengan yang lainnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Manusia
Dan Budaya
Manusia
dan kebudayaan adalah sebuah
ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan.Manusia sebagai makhluk Tuhan
yang paling sempurna merupakan makhluk bebudaya ,makhluk yang memiliki akal
budi yang digunakan untuk berfikir dan menciptakan sesuatu lewat tindakannya.
Manusia dapat menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara
turun menurun. Kebudayaan merupakan perangkat yang ampuh dalam sejarah
kehidupan manusia yang dapat berkembang dan dikembangkan melalui sikap-sikap
budaya yang mampu mendukungnya.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan
disebut culture, yang berasal dari kata latin colere, yaitu
mengolah dan mengerjakan. Dalam Bahsa Belanda, cultuurberarti sama dengan culture. Culture atau cultuur bisa diartikan juga sebagi mengolah
tanah dan bertani. Dengan demikian, kata budaya ada hubungannya dengan
kemampuan manusia dalam mengelola sumber–sumber kehidupan, dalam hal ini
pertanian. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa
Indonesia.
Definisi kebudayaan telah banyak
dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh sebagai berikut :
1. Herskovits memandang kebudayaan sebagai
sesuatu yang turun temurun dari suatu generasi
ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai super organik.
2. Andreas
eppink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung keseruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta
keseluruhan struktur–struktur sosial, religius, dan lain–lain, ditambah lagi dengan segala intelektual dan
artistik yang menjadi ciri khas
suatu masyarakat.
3. Eward B, Taylor mengemukakan bahwa
kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,
yang didalamnya mengandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan–kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota suatu masyarakat.
4. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi
mengatakan kebudayaan adalah sarana hasil
karya, rasa dan cipta masyarakat.
5. Koentjaraningrat berpendapat bahwa
kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar besirat
dari hasil budi pekerti
2.2 Budaya
Kata budaya merupakan
bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya
kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari
Bahasa Sangsekerta budhayah. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di
istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam
bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan,
menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini
berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia
untuk mengolah dan mengubah alam.
Berbudaya,
selain didasarkan pada etika juga mengandung estetika di dalamnya. Etika disini
menyangkut analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan
tanggung jawab. Sedangkan estetika menyangkut pembahasan keindahan, yaitu
bagaimana sesuatu bisa terbentuk dan bagaimana seseorang bisa merayakannya.
Dapat disimpulkan bahwa budaya adalah
bagian yang tak akan pernah terpisahkan dari manusia karena tabiat manusia
sendiri adalah berbudaya. Karena manusia secara bahasa berasal dari kata manu yang
memiiki arti berfikir,akal budi dan budaya berarti akal .Bila digabungkan akan
didapat dua kata kunci yaitu akal dan budi.Hal ini menenjukan
keterkaitan antara keduanya.
2.3 Etika Manusia dalam
Berbudaya
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos. Secara
etimologis, etika adalah ajaran tentang baik–buruk, yang diterima umum atau
tentang sikap, perbuatan, kewajiban, dan sebagainya. Etika bisa disamakan
artinya dengan moral (mores dalam bahasa latin), akhlak, atau kesusilaan. Etika
berkaitan dengan masalah nilai, karena etika pada pokoknya membicarakan
masalah–masaah yang berkaitan dengan predikat nilai susila, atau tidak susila,
baik dan buruk. Dalam hal ini, etika termasuk dalam kawasan nilai, sedangkan
nilai etika itu sendiri berkaitan dengan baik–buruk perbuatan manusia.
Namun, etika memiliki makna yang
bervariasi. Bertens menyebutkan ada tiga jenis makna etika sebagai berikut :
a. Etika dalam arti nilai–nilai atau norma
yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok
orang dalam mengatur tingkah laku.
b. Etika dalam arti kumpulan asas atau nilai
moral (yang dimaksud disini adalah kode etik)
c. Etika
dalam arti ilmu atau ajaran tentang yang baik dan yang buruk . Disini etika sama artinya dengan filsafat moral.
Etika sebagai nilai dan norma etik atau
moral berhubungan dengan makna etika yang pertama. Nilai–nilai etik adalah
nilai tentang baik buruk kelakuan manusia. Nilai etik diwujudkan kedalam norma
etik, norma moral, norma kesusilaan.
Norma etik berhubungan dengan manusia
sebagai individu karena menyangkut kehidupan pribadi. Pendukung norma etik
adalah nurani individu dan bukan manusia sebagai makhluk sosial atau sebagai
anggota masyarakat yang terorganisir. Norma ini dapat melengkapi
ketidakseimbangan hidup pribadi dan mencegah kegelisahan diri sendiri.
Norma etik ditujukan kepada umat manusia
agar tebetuk kebaikan akhlak pribadi guna penyempurnaan manusia dan melarang
manusia melakukan perbuatan jahat. Membunuh, berzina, mencuri, dan sebagaiya.
Tidak hanya dilarang oleh norma kepercayaan atau keagamaan saja, tetapi
dirasaan juga sebagai bertentangan dengan (norma) kesusilaan dalam setia hati
nurani manusia. Norma etik hanya membebani manusia dengan kewajiban–kewajiban
saja.
Daerah berlakunya norma etik relatif
universal, meskipun tetap dipengaruhi oleh ideologi masyarakat pendukungya.
Perilaku membunuh adalah perilaku yang amoral, asusila atau tidak etis.
Pandangan itu bisa diterima oleh orang dimana saja atau universal. Namun, dalam
hal tertentu, perilaku seks bebas bagi masyarakat penganut kebebasan
kemungkinan bukan perilaku yang amoral. Etika masyarakat Timur mungkin berbeda
dengan etika masyarakat barat.
2.4 Estetika Manusia dalam Berbudaya
Estetika
dapat dikatakan sebagai teori tentang keindahan atau seni. Estetika berkaitan
dengan nilai indah–jelek (tidak indah). Nilai estetika berari nilai tentang
keindahan. Keindahan dapat diberi makna secara luas,
secara sempit, dan estetik murni.
a. Secara luas keindahan mengandung ide kebaikan, bahwa segala sesuatunya yang
baik termasuk yang abstrak maupun nyata
yang mengandung ide kebaikan adalah indah.
Keindahan dalam arti luas meliputi banyak hal, seperti watak yang indah,
hukum yang indah, ilmu yang indah, dan kebajikan yang indah. Indah
dalam arti luas mencakup hampir seluruh yang ada apakah merupakan hasil seni, alam, moral,dan intelektual.
b. Secara
sempit, yaitu indah yang terbatas pada lingkup persepsi penglihatan(bentuk dan warna).
c. Secara estetik murni, menyangkut
pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan
segala sesuatu yang diresapinya melalui penglihatan, pendengaran perabaan dan perasaan, yang semuanya dapat
menimbulkan persepsi (anggapan) indah.
Jika estetika dibandingkan dengan etika,
maka etika berkaitan dengan nilai tentang baik–buruk, sedangkan estetika
berkaitan dengan hal yang indah–jelak. Sesuatu yang estetik berarti memenuhi
unsur keindahan (secara estetik murni maupun secara sempit, baik dala bentuk,
warna, garis, kata, ataupun nada). Budaya yang estetik berarti budaya tersebut
memiliki unsur keindahan.
Apabila nilai etik bersifat relatif
universal, dalam arti bisa diterima banyak orang, namun nilai estetik amat
subjektif dan partikular. Sesuatu yang indah bagi seseorang belum tentu indah
bagi orang lain. Misalkan dua orang memandang sebuah lukisan. Orang yang
pertama akan mengakui keindahan yang terkandung dalam lukisan tersebut, namun
bisa jadi orang kedua sama sekali tidak menemukan keindahan di lukisan
tersebut.
Oleh karena subjektif, nilai estetik tidak
bisa dipaksakan pada orang lain.Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk
mengakui keindahan sebuah lukisan sebagaimana pandangan kita. Nilai–nilai
estetik lebih bersifat perasaan, bukan pernyataan
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hakikat Manusia
Sebagai Makhluk Budaya
Manusia memiliki
sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal budi. Akal adalah kemampuan
berfikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. Budi adalah bagian dari
kata hati yang berupa paduan akal dan perasan dan yan dapat membedakan
baik-buruk sesuatu.
Kebutuhan manusia
dalam kehidupan dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, kebutuhan
yang bersifat kebendaan (sarana-prasarana) atau badani/ragawi atau
jasmani/biologis. Seperti makan, minum, bernafas, istirahat, dan seterusnya. Kedua, kebutuhan
yang bersifat rohani atau melalui piaolosdi. Contohnya adalah kasih sayang,
pujian, perasaan aman, kebebasan dan lain sebagainya.
Kebutuhan manusia
dalam hidup dibagi menjadi 5 tingkatn, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis (physiologocal
needs).
Seperti:
makan, pakaian, tempat tinggal, sembuh dari sakit, kebutuhan seks, dan sebagainya.
2. Kebutuhan
akan rasa aman dan perlindungan (safety and security)
Seperti:
bebas dari rasa takut, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak
adil, dan sebagainya.
3. Kebutuhan
sosial (social needs)
Seperti:
kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja
sama, persahabatan, interaksi, dan sebagainya.
4. Kebutuhan
akan penghargaan (esteen needs)
Seperti:
kebutuhan dihargainya kemampuan, kedudukan, jabatan, status, pangkat, dan sebagainya.
5. Kebutuhan
akan aktualisasi diri (self actualization)
Sepert:
kemampuan, bakat, kreativitas, ekspresi diri, prestasi, dan sebagainya.
Dengan akal budi
manusia mampu menciptakan kebudayaan-kebudayaan pada dasarnya adalah hasil akal
budaya manusia dalam interaksinya, baik dengan alam maupun manusia lainnya.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam
hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan
bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu
lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik,
fisik, sosial), maupun kesejarahan. Berdasarkan definisi para ahli tersebut
dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan
manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka
kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar. Budaya
sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan
berperilaku. Seperti apa yang dikatakan Kluckhohn dan Kelly bahwa “Budaya
berupa rancangan hidup” maka budaya terdahulu itu merupakan gagasan prima yang
kita warisi melalui proses belajar dan menjadi sikap prilaku manusia berikutnya
yang kita sebut sebagai nilai budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Lontar. 2007. Manusia
Sebagai Makhluk Budaya http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122928-SK%20007%2009%20Rah%20p%20-%20Pengobatan%20Tradisional-Pendahuluan.pdf
Media Pendidikan. 2013. Hakekat Manusia sebagai makhluk budaya http://blog.tp.ac.id/hakekat-manusia-sebagai-makhluk-budaya
Host Geni. 2007. Manusia sebagai makhluk sosial
dan budaya
Gerbang Ilmu. 2004. Ciri Utama dan
Arti Manusia. http://www.gerbangilmu.com/2014/11/ciri-ciri-utama-dan-arti-manusia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar